Kritik Puisi Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah karya M. Shoim Anwar

Puisi ini memiliki makna bagaimana hakikat dari seorang ulama. Seorang ulama yang mampu menempatkan perannya dengan tepat, tidak terjerumus atau masuk ke dalam jurang keduniawian. Seorang ulama yang berprinsip dan mampu berdiri sendiri tak terpengaruh oleh lingkungan maupun nafsunya. Padahal bisa saja ia mampu memanfaatkan gelar ulamanya untuk kepentingannya sendiri. Namun, ia tidak melakukannya karena hal tersebut dapat menodai hakikat dari gelar ulama itu sendiri dan tidak mampu membohongi hati kecilnya bahwa ulama haruslah berdiri di atas segalanya dan mampu berdaulat.


Baiklah mari kita uraikan makna tiap bait dalam puisi Ulama Abiyasa tak pernah minta Jatah karya M. Shoim Anwar. Pada bait pertama puisi tersebut menceritakan ulama bernama Abiyasa yang memiliki sifat berpegang teguh pada prinsipnya atau bisa dikatakan dengan ulama yang memiliki idealisme. Tak tergoda dengan kilaunya dunia, tak pernah merangkak-rangkak pada penguasa untuk kepentingannya. Ulama yang berpegang teguh, meskipum diancam dengan senjata, dan bertanggung jawab atas ilmu yang diperoleh. Hakikat dari seorang ulama yang benar-benar diamalkannya. Berikut ini merupakan kutipan bait pertama:


Ulama Abiyasa adalah guru yang mulia

Panutan para kawula dari awal kisah

Ia adalah cagak yang tegak

Tak pernah silau oleh gebyar dunia

Tak pernah ngiler oleh umpan penguasa

Tak pernah ngesot ke istana untuk meminta jatah

Tak pernah gentar oleh gertak sejuta tombak

Tak pernah terpana oleh singgasana raja-raja


Pada bait kedua menceritakan bagaimana cara ulama Abiyasa bersikap dalam mengamalkan prilaku ulama. Orang bijak mengatakan “ilmu nganti laku” yang berarti seseorang atau ulama harus mengamalkan ilmu yang diperolehnya sebaik mungkin. Ulama Abiyasa bertutur kata lemah lembut, sehingga banyak orang menyukai dan mengikuti langkahnya dalam berdakwa. Ia mampu menunjukkan berdakwa tanpa kekerasan dan dakwa yang menentramkan hati. Berikut ini merupakan kutipan bait kedua:


Ulama Abiyasa merengkuh teguh hati dan lidah

Marwah digenggam hingga ke dada

Tuturnya indah menyampaikan aroma bunga

Senyumnya merasuk hingga sukma langkahnya menjadi panutan bijaksana

Kehormatan ditegakkan tanpa sebiji senjata


Pada bait ketiga menceritakan tentang jalan hidup ulama Abiyasa yang lebih memilih hidup sederhana dan berpegang teguh atas itu. Dengan sikapnya yang berpegang atas prinsipnya ia ditakuti atau disegani para raja dan penguasa. Gemerlap dunia tidak membuatnya kepincut untuk mendapatkannya. Ia lebih suka memakai pakaian yang sederhana dibanding dengan pakaian yang mewah. Ayat suci dipergunakan secara maksimal. Tidak dipesan untuk kepentingannya atau kepentingan penguasa. Inilah hakikat dari ulama.


Ulama Abiyasa bertitah

Para raja dan penguasa bertekuk hormat padanya

Tak ada yang berani datang minta dukungan jadi penguasa

Menjadikan sebagai pengumpul suara

Atau diduukan di kursi untuk dipajang di depan massa

Diberi pakaian dan penutup kepala berharga murah

Agar tampak sebagai barisan ulama

Ulama Abiyasa tidak membutuhkan itu semua

Datanglah jika ingin menghaturkan sembah

Semua diterimah dengan senyum memesona

Jangan minta diplintirkan ayat-ayat asal kena

Sebab ia lurus apa adanya

Mintalah arah dan jalan sebagai amanah

Bukan untuk ditembangkan sebagai bunga kata-kata

Tapi dilaksanakan sepenuh langkah


Keseluruhan makna dalam puisi tersebut adalah hakikat dari seorang ulama. Ulama yang baik adalah bertanggung jawab atas ilmu dan gelar yang diperolehnya. Dalam puisi tersebut dapat kita lihat bagaimana seorang ulama Abiyasa mampu berpegang teguh pada prinsipnya, ulama yang mampu berdiri sendiri dan berdaulat atas itu.


Sedangkan apabila dihubungkan dengan kehidupan sekarang banyak sosok yang dipandang mulia selerti ulama juga terlena akan duniawi. Melupakan jalan kebenaran yang ia tegakkan serta ajarkan selama ini. Hal ini dikarenakan bujuk rayu sebuah jabatan dan ketenaran yang sudah diatur sedemikian rupa. Para ulama  yang terlena seperti itu sebenarnya hanya dijadikan sebagai benteng bagi penguasa untuk menjaga images bahwa pemerintahan dalam kekuasaanya sudah berjalan sebagaimana mestinya.

Dengan dirapatkannya para ulama ke pemerintahan, secara tidak langsung membungkam suara beberapa masyarakat yang mengagumi sosok ulama tersebut. Namun tidak bisa seperti itu, masyarakat nampaknya sudah cerdas, meskipun para ulama merapat ke istana, pasti terdapat juga diantara ulama-ulama yang tidak merapat ke istana dan tetap teguh pada pendiriannya bahwa ia berjuang di jalan kebenaran. Salah satunya bisa kita lihat seperti Cak Nun. Sampai saat ini sosok Cak Nun yang sangat cerdas pemikirannya serta wawasannya dalam bidang agama politik budaya ekonomi dan kebangsaan hampir tidak pernah sedikitpun mendekat ke pemerintahan, padahal pemikiran-pemikirannya sangatlah luar biasa, beliau masih berpegang teguh berdiri sendiri dan kenetralannya terhadap dunia politik. Beliau tetap menegakkan jalan benar menurutnya dan bisa menjadi panutan bagi kaum muda. Sangat jarang ditemui ulama yang berpegang teguh pada konsistensinya untuk tidak mendekati dunia politik. Karena apabila semua ulama ikut dalam dunia politik, ditakutkan jalan yang ditempuh bukan lagi jalan kebenaran, melainkan semua jalan asalkan ia bisa menang.

Komentar