Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2021

Kritik Puisi Ulama Abiyasa Tak Pernah Minta Jatah karya M. Shoim Anwar

Puisi ini memiliki makna bagaimana hakikat dari seorang ulama. Seorang ulama yang mampu menempatkan perannya dengan tepat, tidak terjerumus atau masuk ke dalam jurang keduniawian. Seorang ulama yang berprinsip dan mampu berdiri sendiri tak terpengaruh oleh lingkungan maupun nafsunya. Padahal bisa saja ia mampu memanfaatkan gelar ulamanya untuk kepentingannya sendiri. Namun, ia tidak melakukannya karena hal tersebut dapat menodai hakikat dari gelar ulama itu sendiri dan tidak mampu membohongi hati kecilnya bahwa ulama haruslah berdiri di atas segalanya dan mampu berdaulat. Baiklah mari kita uraikan makna tiap bait dalam puisi Ulama Abiyasa tak pernah minta Jatah karya M. Shoim Anwar. Pada bait pertama puisi tersebut menceritakan ulama bernama Abiyasa yang memiliki sifat berpegang teguh pada prinsipnya atau bisa dikatakan dengan ulama yang memiliki idealisme. Tak tergoda dengan kilaunya dunia, tak pernah merangkak-rangkak pada penguasa untuk kepentingannya. Ulama yang berpegang teguh, me...

Secerca Pengalaman Nayla

Keluar dari timangan mama Beranjak dari zona nyaman memang sangat diperlukan, tapi kebanyakan orang merasa kekusahan untuk menyiapkan zona baru. Saat itu zona baru bagiku saat menginjak bangku SMA, hal ini saya katakan zona baru karena benar-benar pertama kalinya hidup terpisah dari orang tua. Dari yang biasanya selalu disiapkan menjadi harus menyiapkan sendiri. Dituntut disiplin dan mandiri adalah langkah pertama yang harus saya siapkan saat keluar rumah. Eits tapi jangan salah sangka, keluar rumah yang saya maksud yakni menjadi anak kos saat SMA. Jarak yang bisa terbilang jauh antara sekolah dan rumah memaksaku untuk melangkah lebih berani. Dimulai dari memasang alarm di pagi hari, mengusahakan menata jam makan disetiap harinya, mengolah keuangan dari saku yang diberi orang tua, memilah-milah pergaulan, mengontrol waktu bermain, dan masih banyak lagi. Tidak jarang saya sering kali terlambat masuk sekolah karena bangun kesiangan dan hasilnya dihukum deh. Nah sisi kesenangannya saya ...

Kritik puisi 'Ulama Durna Ngesot Ke Istana'

  “Ulama Durna Ngesot ke Istana            Puisi :  M. Shoim Anwar  Lihatlah sebuah panggung di negeri sandiwara ketika ada Ulama Durna ngesot ke istana menjilat pantat raja agar diberi jatah remah-remah maka kekuasaan menjadi sangat pongah memesan potongan-potongan ayat untuk diplintir sekenanya agar segala tingkah polah dianggap absah   Lihatlah ketika Ulama Durna ngesot ke istana menyerahkan marwah yang dulu diembannya Sengkuni dan para pengikutnya di luar sana bertingkah sok gagah berlindung di ketiak penguasa menunggang banteng bermata merah mengacungkan arit sebagai senjata memukulkan palu memvonis orang-orang ke penjara   Lihatlah ketika Ulama Durna berdagang mantra berbusa-busa adakah ia hendak menyulut api baratayuda para pengikutnya mabuk ke lembah-lembah tatanan yang dulu dicipta oleh para pemula porak poranda dijajah tipu daya oh tahta dunia yang fana para begundal mengaku dewa-dewa sambil menuding ke...

DURSASANA PELIHARAAN ISTANA

      “ DURSASANA  PELIHARAAN   ISTANA ” Dursasana adalah durjana peliharaan istana tingkahnya tak mengenal sendi-sendi susila saat masalah menggelayuti tubuh negara    cara terhormat untuk mengurai tak ditemukan jua suara  para kawula melesat-lesat bak anak panah  suasana kelam bisa meruntuhkan penguasa jalan pintas pun digelindingkan roda-roda gila dursasana  diselundupkan untuk memperkeruh suasana kayak jaka tingkir menyulut kerbau agar menebar amarah atau melempar sarang lebah agar penghuninya tak terima   lalu istana punya alasan menangkapi mereka akal-akalan purba yang telanjang menggurita saat panji-panji negara menjadi slogan semata para ulama  yang bersila di samping raja menjadi penjilat pantat yang paling setia      sambil memamerkan para pengikut yang dicocok hidungnya    Lihatlah  dursasana di depan raja dan pej...

Bingkai-bingkai Puisi (part 2)

  WANITAKU   Kau harus baik baik saja Karena hela nafasku ini untukmu Kau harus baik baik saja Karena prosesku ini untukmu   Kau harus baik baik saja Sampai nanti ku tak lagi kenal kertas kertas itu Kau harus baik baik saja Sampai nanti ku ciptakan surga kecilku Kau harus baik baik saja Hingga hadir sosok wanita menyerupaimu Kau harus baik baik saja Hingga kau timang belahan lain dariku Sekali lagi kau harus baik baik saja

Bingkai-bingkai Puisi

  SAJAK ENAM PULUH SATU Apa kau bilang Rasa bersalah katamu Itu saja Oohh tidak tidak Kau bahkan lihai bersandiwara Hatimu bahkan tak bergeming Kala aku merintih   Pilu memang Kau terkam diriku penuh ego Kau butakan mata Kau tulikan telinga Mungkin tak cukup itu untukmu Hingga dengan mata terbuka Kau cumbui bunga barumu   Bukan rasa iba yang ku ingin setelah ini Kau tau kenapa Karena terlalu menyedihkan Untuk kata kita yang kini menjadi asing

Balada Cerpen Klasik

                                SKENARIO TUHAN Kala itu, pagi yang baru akan mengisahkan segalanya. Tentang asmara muda mudi, tentang pendidikan, tentang karir masa depan, tentang kepercayaan orang tua pada anak, atau bahkan tentang jodoh. Sorot mata itu, tak kusangka akan menjadi topik awal dari kisah ini. Tempat riuh nan megah inilah yang menjadi saksi bisu, ketika bola mata kita saling bertatapan untuk kali pertamanya. Entahlah a ku pun tidak tahu, apakah waktu itu kamu sengaja atau tidak untuk menabrakku, atau mungkin itulah cara tuhan menggariskan pertemuan pertama kita. Setengah terburu-buru kita berdua saling merapikan kertas-kertas yang bertumpu diantara kedua kaki kita, kertas-kertas yang mungkin saja akan diserahkan ke dosen mata kuliah hari itu. “ Oohhh maaf, saya terlalu terburu-buru jadi saya nggak tau kalau ada yang berjalan di depan saya ” kata laki-laki itu.   “Bukan apa-apa...