Balada Cerpen Klasik
SKENARIO TUHAN
Kala
itu, pagi yang baru akan mengisahkan segalanya. Tentang asmara muda mudi,
tentang pendidikan, tentang karir masa depan, tentang kepercayaan orang tua
pada anak, atau bahkan tentang jodoh. Sorot mata itu, tak kusangka
akan menjadi topik awal dari kisah ini. Tempat riuh nan megah inilah yang
menjadi saksi bisu, ketika bola mata kita saling bertatapan untuk kali
pertamanya.
Entahlah aku
pun tidak tahu, apakah waktu itu kamu sengaja atau tidak untuk menabrakku, atau
mungkin itulah cara tuhan menggariskan pertemuan pertama kita. Setengah
terburu-buru kita berdua saling merapikan kertas-kertas yang bertumpu diantara
kedua kaki kita, kertas-kertas yang mungkin saja akan diserahkan ke dosen mata
kuliah hari itu.
“Oohhh
maaf, saya terlalu terburu-buru jadi saya nggak tau
kalau ada yang berjalan di depan saya” kata
laki-laki itu.
“Bukan
apa-apa saya yang salah, saya nggak lihat jalan
karena terlalu asik main hp”.
“Mari
duluan” sambil berjalan dan melambai denganku.
Singkat
sekali, bahkan tidak ada secuil pun firasat yang terlintas dibenakku jika kita
akan bertemu lagi nantinya, tidak ada yang
spesial dengan kejadian waktu itu, hingga dengan santai aku melanjutkan langkah
kakiku menuju salah satu kelas di Universitas
Swasta yang berada di Surabaya ini. Satu
demi satu anak tangga kutelusuri, untung saja kegiatan belajar mengajar belum
dimulai ketika aku tiba. Sontak mataku mencari-cari kursi kosong untuk bisa
kutempati.
Persis
pukul tiga, dosen mata kuliah jam kedua memasuki ruang perkuliahan, lalu
diikuti Mahasiswa yang tadinya berada diluar
ruangan. Sorot mataku terpanah pada satu laki-laki diantara mahasiswa
yang berbaris beriringan memasuki ruang kelas.
“Bukankah
dia laki-laki yang menabrakku tadi, lalu kenapa
dia ada dikelasku, apa dia recoast?”
kataku dalam hati.
”Hai, bukankah tadi kamu yang nggak
sengaja bersenggolan denganku ya?”
tanya laki-laki itu setelah jam pelajaran
selesai.
“Bersenggolan apanya orang ditabrak” jawabku sambil tersenyum sedikit sinis.
“Hahaha iya iya ditabrak, maaf ya, aku nggak liat jalan”.
“Ok, bukan apa-apa tadi juga udah ngomong gitukan”.
“Tadikan
kita belum sempat kenalan, bahkan aku langsung kabur gitu aja. Kenalin nih
namaku Mamsya”
dengan menyodorkan tangannya dihadapanku.
“Namaku
Nala”.
“Nala?, nama yang bagus. Apa kita bisa tukeran
nomer whatsapp Nala?” dengan menyondorkan
hpnya dihadapanku.
“Apa boleh buat, kan setengah dipaksa” dilanjut dengan suara tawa anak
laki-laki itu.
Namaku
Nala, Mahasiswa Swasta
di salah satu kampus di kota Surabaya dan sekarang masih semester 4. Usiaku
baru saja menginjak 21 tahun. Dia Mamsya, Mahasiswa
semester 6 yang baru saja kukenal dikampus ini. Dia lebih tua 1 tahun dariku.
Sejak
pada hari itu aku dan Mamsya mulai dekat, semakin dekat hingga kita berdua
akhirnya menjalin suatu hubungan. Hubunganku dengan Mamsya berlangsung cukup lama,
sekitar 1 tahun semenjak hari itu.
Sore
itu setelah aku pulang dari perkuliahan, seperti biasa Mamsya berkunjung dikos
ku, namun kali ini lain, aku tidak menjumpai Mamsya diruang tamu seperti biasa.
Aku menjumpai Mamsya berada tepat di dalam kamar kos ku. Entah dari mana dia
mendapatkan kunci kamar kos ku, yang jelas aku tidak pernah memberi kunci kamar
ku padanya. Saat itu, Mamsya memberiku kejutan, kita berdua merayakan
anniversary 1 tahun menjalin asmara. Namun setelah itu hal yang tak pernah
terbayangkan pun hampir terjadi didepan mata. Mamsya
menggodaku dan terus saja menggodaku, hingga aku hampir terbuai, namun aku
tersadar ini belum waktunya, ini salah.
“Kita
keterlaluan Mamsya, kita tidak seharusnya seperti ini”.
“Tapi
kitakan belum melakukan apa-apa Nala”.
“Ya
terus? Apa harus kita melakukan dulu baru sadar? Apa harus ngerusak hidup kita
dulu baru sadar?”.
“Bukan
seperti itu Nala”.
“Lalu harus seperti apa, sudahlah Mamsya pergilah, ini sudah tidak
benar, ini salah”.
“Tapi
Nala aku mencintaimu”.
“Kamu nggak cinta, kamu hanya mencintai nafsumu dan kamu lampiaskan ke aku”.
“Tapi aku
mau serius sama kamu Nala”.
“Kalau
kamu mau serius bukan seperti ini caranya Mamsya. Pergilah aku tidak mau
mendengar pembelaanmu lagi".
Mamsya
pergi, kala itu hatiku berkeping hancurnya. Berat memang berkata seperti itu,
menyuruh dia pergi dari hidupku, meski hatiku meronta ronta tidak sudi apabila
dia berpaling, namun ini keputusanku aku
lebih memilih kita jalan sendiri-sendiri, dari pada harus memaksakan hubungan
yang sudah tidak sehat. Aku memang begitu mencintai Mamsya, mungkin Mamsya juga
demikian, tapi sekali lagi untuk apa mempertahankan hubungan yang sudah tidak
sehat, hubungan yang hampir saja melanggar syariat agama. Aku takut sekali jika
nanti diteruskan akan berakibat fatal.
***
Sejak
saat itu kita tidak pernah lagi berhubungan, baik melalui chat ataupun saling
sapa. Sejak kejadian itu Masya seolah lenyap dari pandanganku. Sedikitpun aku
tidak pernah menjumpai dirinya, entah kemana dia aku pun tidak tahu, untuk
mencari keberadaan Masya pun aku tidak berani. Aku lebih memilih untuk
memperbaiki diri dan mengisi hari-hariku dengan hal-hal yang berbau agama,
seperti pengajian talim hingga aku mencari guru ngaji pribadi. Saat itu yang
kulakukan hanya ingin mendekat pada sang kuasa dan fokus pada kuliah yang saat ini sedang kujalani.
Sekitar
satu bulan lagi kuliahku hampir selesai.
Selama itu hari-hariku berjalan seperti biasa, namun tidak
dengan hatiku, hatiku tetap diam di situ tidak mau bergerak kemana-mana
sejak kejadian itu hingga saat ini. Luka
lama itu masih belum mengering meski dikikis waktu, sakitnya masih saja terasa baru. Entah bagaimana perasaanku saat ini pada
Mamsya, sudah matikah atau masih utuh aku sendiri tidak terlalu paham, yang
jelas aku
berusaha membiasakan diri
tanpa Mamsya, aku membiarkan hidupku mengalir begitu saja mengikuti
alur cerita yang telah tertulis ini, aku percaya jika tulang rusuk tidak akan
tertukar.
Aku juga tidak berusaha mencari pengganti Mamsya, aku membiarkan hatiku kosong
begitu saja, karena aku tahu jika jodoh itu tuhan
yang mengatur.
Saat
aku mengikuti pengajian talim di sebuah Masjid,
salah seorang guru ngajiku Ustadz Imam, menawariku sebuah kisah baru.
Mungkin ini yang dinamakan skenario terindah yang dibuat sang kuasa pada
makhluknya.
“Kak Nala nanti kakak disuruh menemui Ustadz Imam setelah pengajian
selesai” sapa anak kecil laki-laki yang tiba-tiba menghampiriku saat aku sedang
berjalan kedalam Masjid.
“Oh iya makasih adek, nanti kakak akan menemui Ustadz Imam”.
Sesaat setelah pengajian talim selesai bola mataku tertuju pada sosok
laki-laki paruh baya yang sedang berjalan keluar Masjid.
“Permisi Ustadz Imam, tadi ada yang bilang kalau saya disuruh menemui
ustadz, apa itu benar?”.
“Iya benar, Ustadz mau bicara sebentar sama kamu”.
“Tentang
apa ya Ustadz?”.
“Jadi
seperti ini Nala, salah satu murid Ustadz
ada yang mau mencari istri, dengan cara taaruf.
Kemarin Ustadz sudah memberi dia CV
akhwat yang sudah cukup umur untuk menikah.
Lalu dia memilihmu Nala. Apa Nala mau?”.
“Dengan
restu orang tua dan ridha Allah Ustadz”.
“Tapi
yang ini memiliki masa lalu cukup kelam. Nala bisa bicara sama orang tua Nala
dulu. Jika diperbolehkan Nala bisa hubungi Ustadz
lagi”.
“Masa
lalu Nala juga kelam Ustadz, tapi setiap manusia bisa berubah
menjadi lebih baik jika ada niat karena Allah didalamnya”.
“Masyaallah semoga Allah memberimu jalan terbaik Nala”.
“Amin Ustadz”.
“Yasudah Ustadz pamit pulang dulu Nala, hanya itu yang mau Ustadz sampaikan
pada Nala, assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam, hati-hati Ustadz”.
Sekitar
satu minggu setelah kejadian itu, dengan
seizin mama dan papa aku memberanikan diri untuk menghubungi Ustadz Imam, dan Ustadz Imam langsung menentukan
tanggal untuk kami bertemu dengan satu muridnya di masjid tempat biasa saya
mengaji.
Tanggal
tiga November, hari ini saatnya untuk
bertemu dengan salah seorang murid dari guru ngajiku. Sengaja aku tidak memoles wajahku dengan riasan
apapun, entah apa alasannya, yang jelas aku tidak ingin
melakukannya hanya demi menarik perhatian lawan jenis.
“Assalamualaikum”
sambil berjalan menuju halaman Masjid.
“Waalaikumsalam,
mari masuk Nala” jawab Ustadz Imam,
diikuti seseorang pemuda itu sambil menoleh
kearahku.
Sesorang
itu, bukan orang asing bagiku. Dia orang yang pernah aku
kenal, bahkan orang yang dulunya pernah mengisi relung hatiku, dia Mamsya.
Tubuhku kaku kala itu, mataku tidak bisa menatap bola mata Mamsya, aku hanya
bisa tertunduk, bahkan langkahku seketika terhenti kala itu, yang bisa
kulakukan saat itu hanya pergi, pergi sejauh-jauhnya dari sana. Bayang-bayang
masa lalu bersama Mamsya dengan cepat melucuti pikiranku. Aku masih malu dengan
tuhanku, aku takut tuhanku masih marah, tuhanku terlalu baik dengan pendosa
seperti aku ini hingga tuhanku masih mau mempertemukanku dengan
Mamsya. Orang yang dulu begitu sangat kucintai
***
“Gimana
Mamsya, orangnya sampai sudah pergi tuh” tanya Ustadz Imam
kepada Mamsya sesaat setelah aku pergi dari sana.
“Dia
mantan saya Ustadz”.
“Mantan
kamu yang kamu ceritain hampir...”.
“Iya
Ustadz”.
“Masyaallah,
kok bisa sampai nggak nyadar kamu ketika baca nama dia di CV?”.
“Kan
nama Nala banyak Ustadz tidak cuma satu, ada beberapa
wanita yang saya kenal dengan nama itu juga Ustadz”.
“Masyaallah
kalau begitu baik sekali Allah sama kamu, hingga kalian bisa dipertemukan lagi
seperti ini. Terus bagimana sekarang?”.
“Atas
ridho Allah dan ridho orang tua, saya mau melanjutkan Ustadz”.
“Alhamdulillah”.
***
Sejak
di perjalanan menuju rumah hingga sampai di rumah. Aku terus mencoba menahan
derai air mata yang terus mengalir, namun seakan tidak ada gunanya karena air
mataku terus berjatuhan.
“Nala
kamu kenapa kok menangis sayang?” sapaan mama
ketika melihatku menuju ke kamarku.
“Mamsya
mama”.
“Mamsya
siapa? Mamsya pacar kamu waktu itu?”.
“Iya,
ternyata dia yang mau menikah sama Nala ma”.
“Terus
perasaan Nala sama Mamsya sekarang gimana?”.
“Nala
seneng ma, Nala nggak nyangka kalau Mamsya bisa berubah
seperti yang Nala liat tadi, Mamsya yang sekarang lebih santun ma, mau berubah
ke arah yang lebih baik. Jauh dari Mamsya yang Nala kenal dulu ma”.
“Jadi
Nala mau lanjutin proses taarufnya?”
“Nala
tidak tahu ma, Nala takut terjebak seperti dulu lagi”.
“Apa
Nala cinta sama Mamsya”.
“Dulu
yang Nala rasakan itu cinta ma, hati Nala berbunga-bunga, Nala manghalalkan
segala cara demi menambah romantisme dalam hubungan yang masih haram ma. Jujur
Nala berharap, bahwa pertemuan tadi adalah jawaban atas doa Nala selama ini,
tapi Nala takut ma, Nala takut Allah masih marah sama Nala”.
“Dengerin
ya Nala sayang, Allah mempertemukan kalian, setelah kalian saling meninggalkan
karena takut akan murkanya. Mungkin saat itu Allah ingin kalian bertemu dengan
cara yang baik dan bisa saja ini saatnya”.
“Allah
baik sekali ma”.
“Allah
itu memang baik sayang, sekarang lebih baik kamu berdoa, berterima kasih pada
Allah, minta agar dilancarkan dan dimudahkan ya”.
“Iya
ma”.
Selang
empat minggu setelah kejadian itu, tiba-tiba
Mamsya datang ke rumahku bersama orang tuanya, lalu dia memintaku ke orang
tuaku. Aku dan keluarga sebelumnya juga tidak pernah tahu akan
hal ini. Karena terakhir bertemu dengan Mamsya hanya kemarin di Masjid bersama
Ustadz Imam.
“Assalamualaikum”.
“Waalaikumsalam...Mamsya”.
“Di
CV kamu tidak ada nomer orang tuamu, maka
dari itu aku memutuskan untuk langsung datang kemari, dan membawa kedua orang
tuaku untuk meminangmu”.
“Siapa Nala?” sahut mama sambil menghampiriku.
“Ada Mamsya sama orang tuanya ma”.
“Oohh Mamsya silahkan masuk, silahkan masuk juga bapak ibu. Mari kita
bicara di dalam saja” sahut mama sambil mempersilahkan mereka masuk.
Pertemuan
kedua keluarga itu memutuskan banyak hal, salah satunya menentukan akhir dari kisahku dengan Mamsya yakni dengan cara pernikahan.
Komentar
Posting Komentar