esai atau kritik puisi Wiji Thukul
Puisi Wiji Thukul
PERINGATAN
Jika rakyat pergi
Ketika penguasa pidato
Kita harus hati-hati
Barangkali mereka putus asa
Kalau rakyat bersembunyi
Dan berbisik-bisik
Ketika membicarakan masalahnya sendiri
Penguasa harus waspada dan belajar mendengar
Bila rakyat berani mengeluh
Itu artinya sudah gasat
Dan bila omongan penguasa
Tidak boleh dibantah
Kebenaran pasti terancam
Apabila usul ditolak tanpa ditimbang
Suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
Dituduh subversif dan mengganggu keamanan
Maka hanya ada satu kata: lawan!
Di Bawah Selimut Kedamaian Palsu
Apa guna punya ilmu
Kalau hanya untuk mengibuli
Apa gunanya banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Di mana-mana moncong senjata
Berdiri gagah
Kongkalikong
Dengan kaum cukong
Di desa-desa
Rakyat dipaksa
Menjual tanah
Tapi, tapi, tapi, tapi
Dengan harga murah
Apa guna banyak baca buku
Kalau mulut kau bungkam melulu
Berikut esai atau kritik tentang puisi diatas
PERINGATAN
Puisi peringatan ini adalah karya sastrawan sekaligus aktivis Widji Tukul. Puisi ini berisikan peringatan kepada para pemimpin kala itu yakni ditahun 80-90 an yang menggunakan kekuasaan sebagai rezim yang menyengsarakan rakyat. Apapun bentuk kritik dan usulan rakyat ditolak, rakyat dipaksa mengikuti kemauan pemerintahan yang berkuasa pada orde tersebut.
Apabila ada yang menolak atau tidak sependapat, maka bisa jadi rakyat tersebut akan celaka. Pada dasarnya puisi Peringatan juga sebagai ultimatum pemerintah apda waktu itu bahwa rakyat sebenarnya tidak menyukai pemerintahan pada orde itu, dan sebagai peringatan atau pertanda bahwa pemerintah harus berhati-hati dengan pergerakan rakyat yang tidak suka itu.
Dibawah Selimut Kedamaian Palsu
Puisi dibawah selimut kedamaian palsu ini karya widji tukul tahun 1986 an yang memang pada waktu itu rezim kekuasaan orde baru. Puisi ini menggambarkan bagaimana kondisi Indonesia pada waktu itu. Dimana banyak orang pintar yang dilindungi kekuasaan dan kekuatan bersenjata bekerjasama dengan pihak-pihak licik untuk menghancurkan masyarakat. Rakyat diminta bahkan cenderung dipaksa menjual tanah dengan harga murah dan beralasan agar mendapatkan uang. Padahal sebenarnya tidak adil bagi rakyat. Namun nahasnya lagi banyak orang berilmu, cerdas, pintar, namun tidak berani mengkritik pemerintahan pada waktu itu, mereka seakan bungkam dan menampakkan bahwa ilmu yang mereka pelajari selama ini tidak ada gunanya sama sekali.
Komentar
Posting Komentar