Kritik atau esay puisi Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia karya Taufiq Ismail
Ketika di Pekalongan, SMA kelas tiga
Negeriku baru enam tahun terhormat diakui dunia
Dia mengarang tentang pertempuran Surabaya
Tom Stone akhirnya masuk West Point Academy
II
Langit langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
III
Di negeriku, selingkuh birokrasi peringkatnya di dunia nomor
Di negeriku, sekongkol bisnis dan birokrasi berterang-terang
Di negeriku anak lelaki anak perempuan, kemenakan, sepupu
Di negeriku komisi pembelian alat-alat besar, alat-alat ringan,
Di kedutaan besar anak presiden, anak menteri, anak jenderal,
Di negeriku penghitungan suara pemilihan umum sangat-
Di negeriku khotbah, surat kabar, majalah, buku dan
Di negeriku dibakar pasar pedagang jelata supaya berdiri pusat
Di negeriku Udin dan Marsinah jadi syahid dan syahidah,
Di negeriku keputusan pengadilan secara agak rahasia dan tidak
Di negeriku rasa aman tak ada karena dua puluh pungutan, lima
Di negeriku telepon banyak disadap, mata-mata kelebihan kerja,
Di negeriku sepakbola sudah naik tingkat jadi pertunjukan teror
Di negeriku rupanya sudah diputuskan kita tak terlibat Piala
Di negeriku ada pembunuhan, penculikan dan penyiksaan rakyat
Di negeriku budi pekerti mulia di dalam kitab masih ada, tapi dalam
IV
Langit akhlak rubuh, di atas negeriku berserak-serak
"Alangkah Carut Marutnya Negeri Ini"
Situasi negera yang digambarkan dalam puisi "Malu (Aku) Jadi Orang Indonesia)", puisi ini tertulis tahun 1998. Pada tahun tersebut yakni orde baru (orba) yang dikenal sebagai rezim pemerintahan Indonesia terlama dibawah presiden Soeharto. Puisi ini menceritakan bagaimana keadaan Indonesia kala itu, seperti pemberangkatan mahasiswa untuk belajar di Luar Negeri, contohnya Belanda. Padahal nama Indonesia ini sangatlah terkenal disana, hingga terdapat beberapa mahasiswa asal belanda yang menulis kisah tentang perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan dan berjuang memerdekakan bangsanya. Nama Indonesia diluar negeri seolah merupakan bangsa yang gigih dan tangguh oleh karena itu mereka kagum atas Indonesia. Mereka mengagumi kisah bangsa Indonesia yang dulu melawan penjajahan, namun mereka tidak tahu bahwa bangsa Indonesia saat ini masih belum merdeka dari penjajahan. Dulu dijajah bangsa asing, sekarang melawan bangsanya sendiri, yakni oknum-oknum yang menginginkan serta mementingkan kepentingan pribadinya sendiri. Pada masa orde baru inilah Indonesia mulai menjadi negeri yang carut marut dan dirusak sendiri oleh sistem pemerintahannya. Pada masa ini juga terkenal dengan politik kekeluargaan. Misalnya saudaranya ada yang menjadi tentara atau dipemerintahan, maka segala urusan saudaranya yang lain akan dimudahkan urusannya. Anak-anak menteri, presiden, dan pejabat negara yang lainnya berubah menjadi penguasa yang bisa melakukan apa saja. Tidak hanya itu, pada waktu itu (orde baru) sebagian besar masyarakat Indonesia bertingkah laku seperti manusia yang melupakan akhlak dan agama. Banyak terjadi korupsi, pungli, atau politik uang yakni ada uang semua urusan menjadi lancar. Banyak sistem yang mengatasnamakan masyarakat atau rakyat, namun kenyataan sebenarnya yaitu merugikan. Banyak pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) misalnya pasar-pasar tradisional sengaja dibakar agar nantinya bisa dibangun lagi menjadi pasar-pasar modern yang dimiliki oleh orang-orang ber uang, karena pada masa itu dikenal juga sebagai jaman pembangunan. Presidennya saja sampai mendapat sebutan Bapak Pembangunan. Banyak sawah dan ladang rakyat yang dibeli dengan harga murah oleh pemerintah, namun pemerintah menjual dengan harga mahal kepada orang asing untuk dibangunkan bangunan pencakar langit atau gedung-gedung tinggi. Bahkan kekejaman atas HAM dimasa itu sampai menghilangkan nyawa para pahlawan HAM seperti Marsinah yang sampai saat ini masih belum terungkap kasusnya. Itulah kisah dan gambaran carut marutnya negeri ini di masa orde baru, setelah dimasa penjajahan dengan gigih melawan penindasan bangsa asing (penjajah), setelah merdeka malah melawan bangsanya sendiri.
Komentar
Posting Komentar