Esay atau kritik kliping sastra cerpen karya M Shoim

 

WANITA-WANITA BERSTIGMA NEGATIF


Stigma menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yaitu merupakan ciri negatif yang menempel pada pribadi seseorang karena pengaruh lingkungannya. Stigma ini dapat melekat pada semua orang baik pria maupun wanita. Selama ini yang sering mendapat stigma negatif yaitu wanita. Namun stigma negatif yang melekat pada diri wanita ini apabila ditelusuri secara mendalam maka tidak lepas dari peran atau tindakan pria sehingga membuat wanita berstigma negatif. Misalnya pria tersebut melakukan tindakan melanggar hukum, maka secara otomatis wanita pasangan dari pria tersebut akan dipandang negatif juga oleh lingkungan sekitarnya.

Stigma negatif wanita ini juga digambarkan dalam kisah beberapa cerpen karya M Shoim Anwar yang dimuat dalam kliping sastra Indonesia. Cerpen-cerpen karya M Shoim Anwar yang berkisah mengenai wanita yakni seperti Sorot Mata Syaila, Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, Tahi Lalat, Sepatu Jinjit Aryanti, Jangan Ke Istana Anakku. Cerpen-cerpen tersebut mengisahkan kisah wanita-wanita dibalik konflik atau sebuah permasalahan baik pelanggaran hukum, dunia bisnis, perpolitikan, bahkan suap menyuap sampai korupsi. Dalam cerpen-cerpen tersebut dapat diketahui bagaimana para wanita menjadi senjata ampuh untuk melawan hukum atau bahkan meloloskan diri dari hukum. Bukan hanya menjadi senjata, namun pada posisi korban tepatnya.

"Perkara ini tidak melibatkan aku seorang diri. Seluruh keluarga, istri dan anak-anak, juga diperiksa karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan. Si alan, seorang teman anggota parlemen yang menjadi terdakwa “menyanyi” saat di persidangan, termasuk mengungkap liku-liku pemenangan tender yang telah kami skenariokan untuk perusahaan keluarga. Pengakuan itu bahkan telah masuk dalam berita acara pemeriksaan alias BAP" (Sorot Mata Syaila)

Apa yang telah diperbuat laki-laki sehingga ia harus berurusan dengan hukum ikut menjerat keluarganya, termasuk wanita yang menjadi istrinya. Pria yang terjerat kasus suap- menyuap akan segera menjadi tersangka karena kasusnya diungkap oleh tersangka lain yang kebetulan adalah temannya. Temannya ini adalah seorang anggota parlemen (pemerintahan) yang tentunya dibagian bersangkutan dengan kasusnya. Dari hal tersebut menunjukkan bahwa untuk melancarkan suatu usaha atau bisnis dalam praktiknya yaitu harus melakukan suap-menyuap terhadap pejabat pemerintahan terkait. Dari suap menyuap inilah sehingga ia harus melarikan diri ke luar negeri dengan berdalih ibadah ke tanah suci. Lagi-lagi perjalanan pelariannya juga melibatkan pihak-pihak pemerintahan didalamnya sehingga sebelum ia dicekal tidak boleh keluar negeri, ia sudah terlebih dahulu berangkat ke luar negeri. Namun setibanya ia disana bertemu dengan seorang wanita bernama Syaila yang membawanya terlarut dalam perjalannya hingga sampai pada terowongan gelap dan hanya sorot mata sayla inilah yang terlihat. Hingga sampai pada satu titik ia terbayang atau terlihat gambaran keluarganya yaitu anak-anaknya beserta kedua istrinya kesusahan di Negera asal. Tentunya wanita yang menjadi istrinya harus menanggung permasalahan yang disebabkan oleh suaminya, sehingga ia mendapat stigma buruk yaitu istri buronan. Inilah contoh stigma negatif wanita yang diakibatkan oleh lingkungan yaitu akibat ulat suaminya.

Terdapat juga stigma negatif wanita karena perbuatannya sendiri. Seperti nampak pada kisah cerpen Bambi dan Wanita Berselendang Baby Blue. Menjadikan wanita sebagai senjata untuk menyerang balik lawan hukumnya. Sudah tak asing lagi bahwasannya sektor paling rawan terjadinya praktik suap menyuap yaitu sektor hukum. Sektor hukum ini sangatlah mudah dalam mendapatkan uang dengan cara menyuap atau menarik suap. Misalnya saja seorang terdakwa atau tersangka menyuap hakim agar dipersidangan nantinya ia dimenangkan atau mendapat hukuman ringan bahkan dibebaskan. Siapa yang mau menghabiskan waktu sia-sia dipenjara, sehingga berapapun biayanya akan ia lakukan agar tidak dipenjara. Begitupun disisi hakim atau pihak pemutus perkara. Siapa yang tidak mau uang instan, yang lebih besar daripada gajinya, bahkan berlipat ganda. Ia hanya memelitirkan sejumlah pasal dengan argumennya. Namun menyuap tidak harus dengan uang, melainkan dengan hal lain juga. Seperti wanita penghibur, dalam cerpen Bambi dan Wanita Berselendang Baby Blue, sosok miske wanita penghibur bagi bambi yang sebenarnya merupakan anak dari sosok yang digugat tokoh utama. Anak yang digugat oleh tokoh utama ini nampaknya memang dengan sengaja mendekati hakim tersebut agar ayahnya yang menjadi tergugat tidak menjadi tersangka atau dipenjara, sehingga ia memilih untuk mendekati hakim tersebut. Disisi lain sang hakim pun seperti mendapat durian runtuh, didekati wanita yang cantik seperti sosok miske siapa yang tidak mau, dengan memanfaatkan jabatannya ia pasti bisa mandapatkan miske.

"Tak heranlah saya kalau perempuan muda itu lengket di pelukan Bambi. Sudah bukan rahasia lagi kalau perempuan muda belia yang suka keluar malam menjalin hubungan dengan lelaki berumur. Bagi sang perempuan, umur dan kegendutan Bambi mungkin tak masalah. Yang penting uang dan kesenangan dapat diperoleh dengan mudah. Kesadaran utuh mungkin telah ada pada diri perempuan itu bahwa Bambi memang harus diperas hartanya dan digunakan perempuan itu untuk mempercantik penampilan guna bersenang-senang dengan para lelaki lain yang lebih muda.

Perempuan muda itu mungkin tidak hanya minta behel, selendang baju, kaus, celana, tas, sandal, sepatu, perhiasan, telepon seluler, benda-benda kesukaannya, makan-makan, tapi juga pelesiran ke tempat-tempat yang jauh dengan naik pesawat dan tidur di hotel berbintang. Dengan bermain dua muka, mungkin juga lebih, perempuan muda itu ingin mempertunjukkan penampilan glamornya di hadapan teman-temannya pula."

Keduanya saling menguntungkan, terjalin simbiosis mutualisme antar keduanya. Di pihak wanita (miske) ia bisa meloloskan ayahnya sebagai tergugat terlepas dari jerat hukum bonusnya lagi ia bisa dekat dengan hakim dan segala keinginannya akan terpenuhi asalkan mau menjadi wanita penghibur sang hakim. Disisi sang hakim ini adalah kesempatan emas dimana ia bisa berkencan dengan wanita muda cantik meskipun dirinya sudah tua. Hal-hal yang demikian sudah tidak asing lagi di negara ini, bahwasanya para pejabat baik dilingkungan pemerintah maupun non pemerintah terlibat kencan dengan gadis muda belia, karena memang itulah kenakalan seorang pria ketika sudah mapan atau memiliki jabatan.

Selain untuk lepas dari jerat hukum, juga terdapat stigma negatif wanita yang dilakukannya sendiri dengan tujuan tertentu seperti bisnis. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwasanya wanita memiliki daya tarik sendiri bagi pria. Apalagi wanita tersebut tampak cantik dan elegan, mata pria mana yang tak melihatnya. Namun hal yang patut disayangkan yakni kemenarikan wanita tersebut dijadikan ajang berbisnis untuk memperlancar tujuan bisnisnya. Karena memang berbeda, apabila pria dan pria berdiskusi masalah bisnis pasti akan terasa begitu menjemuhkan, berbeda apabila antara pria dan wanita berdiskusi masalah bisnis tentunya akan lebih lancar dalam pembahasan maupun kesamaan pendapat kedua belah pihak, namun tentunya tidak semua pria seperti itu, ada juga yang profesional dan tidak terpengaruh dengan lawan bisnisnya. Seperti dalam cerpen Tahi Lalat karya M Shoim Anwar yang membahas tentang kepala desa yang bekerja sama dengan pengembang untuk membeli tanah warga desa dengan sedikit memaksa.

“Di luar sana juga ada omongan soal kedekatan istri Pak Lurah dengan bos proyek perumahan,” aku membuka pembicaraan dengan istri. “Kedekatan yang gimana lagi?” istriku mendongak. “Bos proyek itu sering datang saat Pak Lurah tidak ada di rumah. Katanya juga pernah keluar bareng.”

Bulan depan adalah masa pendaftaran calon lurah atau kepala desa di sini. Konon Pak Lurah akan mencalonkan kembali untuk periode berikutnya. Tak ada yang bisa mencegahnya meski janji-janjinya yang dulu ternyata palsu.

“Ada unsur politik juga kayaknya,” kataku pada istri.

“Mengapa istri diikut-ikutkan?” dia mendongak.

“Citra perempuan lebih sensitif untuk dimainkan.”

“Pak Lurah telah menceraikan istrinya yang pertama. Ini istri kedua. Andai tetap dengan Bu Lurah yang dulu, tak akan tersiar kabar kayak begini.”

“Bisa jadi berita itu datangnya dari suaminya yang dulu"

Tentunya kepala desa mendapat bagian tersendiri apabila berhasil membujuk warganya menjual tanah pada pengembang. Sehingga kesempatan emas bagi kepala desa untuk mendapatkan keuntungan yang sebesar-besarnya dari bisnis itu. Salah satu cara yang sering dilakukan yaitu dengan meminta wanita untuk ikut berdiskusi dengan pengembang. Misalnya saja istrinya, namun dengan tujuan tertentu juga. Misalnya agar lebih lancar dan pengembang memberikan harga yang lebih tinggi lagi. Strategi menggunakan wanita dalam proses pemasaran ini sudah tidak bisa dipungkiri keampuhannya lagi dalam menekan tujuan penjualan atau berdiskusi untuk mencapai kesepakatan dalam berbisnis. Entah apa yang menjadi alasannya.

Kepala desa memaksa warganya menjual tanah pada pengembang dengan sedikit memaksa. Bahkan merelakan istrinya dekat dengan kepala proyek atau pihak pengembang sehingga menjadi bahan pergunjingan dan perdebatan di masyarakat desa. Apalagi gosip yang terdengar sampai pada bagian tubuh sensitif istri kepala desa tersebut yang memiliki tahi lalat. Gosip yang demikian tentunya dikeluarkan oleh pihak yang memang menyimpan dendam untuk menjatuhkan kepala desa, atau memang disebarkan bahwa yang menyebarkan berita tersebut tentunya sudah pernah dekat dengan istri kepala desa. Hal inilah yang tentunya menjadi stigma negatif yang melekat pada diri istri kepala desa tersebut.

Dikisah cerpen lain karya M Shoim Anwar stigma negatif wanita ini muncul karena ada hubungannya dengan penguasa. Seperti dalam cerpen Sepatu Jinjit Aryanti seorang wanita yang menjadi saksi sebuah kasus pembunuhan.

"Aku mendapat perintah untuk ’’menyembunyikan” Aryanti dengan ’’berbagai cara” karena dia adalah saksi mahkota terkait kasus pembunuhan orang penting yang direncanakan. Sengaja kata itu digunakan dan aku harus menerjemahkannya sendiri. Ambigu, tapi sudah menjadi kelaziman agar pemberi perintah dapat berkelit ketika terjadi hal yang tidak dikehendaki. Dan pastilah aku yang dipersalahkan dan dikorbankan. Sebuah pertaruhan klasik seorang bawahan"

Sebagai seorang penguasa, apa yang tidak bisa ia lakukan. Termasuk saling menyingkirkan siapa yang dianggap musuhnya serta tidak segan-segan berbuat nekat demi keegoisannya. Tidak heran juga sampai menghalalkan segala cara seperti membunuh satu sama lain. Bahkan membuat strategi sedemikian rupa agar ada yang dikambing hitamkan apabila kasusnya terungkap. Justru bukan dirinya yang menjadi tersangka, melainkan seseorang yang akan ia korbankan. Itulah kejamnya apabila seorang pemimpin yang gila jabatannya. Bahkan siapa saja yang mengetahui kasus tersebut akan dijauhkan atau diasingkan menjauh dari kehidupan pemimpin tersebut. Hal ini dilakukan agar tidak diketahui bukti atau saksi atas suatu kejadian tersebut. Aryanti adalah sosok wanita yang menjadi saksi atas sebuah kasus pembunuhan yang melibatkan seorang penguasa, sehingga ia diasingkan bersama seorang utusan penguasa tersebut, sampai akhirnya ia terbuai dalam pengasingannya dengan seorang pria yang menjadi teman dalam perasingannya.

"Pada hari dan jam yang telah ditentukan, agar tak tercium pemburu berita, Aryanti harus disembunyikan di tempat yang jauh. Dia digiring harus terbang dari kota A, sementara dua jam sebelumnya aku harus terbang dari kota B. Tujuan kami sama-sama ke Johor Bahru. Maka, ketika Aryanti landing, aku sudah berada di ruang tunggu bandara antarbangsa itu. Pertemuan pun terjadilah. Selanjutnya kami bisa pindah dari kota satu ke kota lainnya."

Pengasingan Aryanti ini memang diperlukan, mengingat apabila ia tidak diasingkan maka dikhawatirkan kasus tersebut akan terungkap bahkan bisa jadi Aryanti membuka suara soal kasus tersebut. Oleh karena itu ia haruslah terus berpindah-pindah. Begitulah apabila seorang penguasa mempunyai aib. Semaksimal mungkin ia menutupi aibnya demi jabatannya itu.

’’Ya, karena saya tak diberi pilihan lain.” Kutatap wajah Aryanti yang tiba-tiba ada aura berbeda. Beberapa jurus dia terdiam. Mungkin mengingat detik-detik terakhir ketika dia diperintahkan, tepatnya dipaksa, untuk menjebak lelaki yang telah banyak memberinya kesenangan dan keuntungan. Lelaki berumur itu telah menjadi sasaran karena dia mengetahui banyak borok yang dilakukan para pembesar. Kalau lelaki ini bisa diberesi, maka ada pihak-pihak lain dalam lingkarannya yang bisa di kambing hitamkan sesuai skenario yang dibuat. Dengan demikian borok itu tak jadi diusut. Ibarat pewayangan, ketika Durna dan Sengkuni bersekongkol, maka jadilah semua itu."

Begitu kejinya jika seorang penguasa memiliki rencana busuk kepada lawannya. Ditata sedemikian rupa dengan strategi yang matang dan tidak perlu tangannya sendiri yang melakukan, melainkan tangan orang lain. Oleh sebab itu Aryanti adalah yang dikambing hitamkan. Mengingat profesi sebenarnya Aryanti yang mendukung untuk menuruti penguasa itu melakukan hal yang diinginkan. Profesi Ariyanti adalah seorang lady golf, sehingga dengan mudahnya ia bisa menjalankan strategi untuk membunuh lawan penguasa, misalnya saja memberikan minuman yang diberi racun dan lain sebagainya. Sehingga seolah Aryanti lah yang membunuhnya, padahal sebenarnya Aryanti hanya pihak yang disuruh serta dijebak juga.

Dilain kisah hal ini juga terjadi dalam cerpen Jangan Datang Ke Istana Nak karya Shoim Anwar.  Mengisahkan seorang istri yang tertahan di Istana dan memang sengaja dipisahkan oleh istana. Apapun perintah istana haruslah dilakukan, apabila tidak dilakukan berarti dianggap sebuah penghinaan atau perlawanan. Oleh karena itu keinginan istana haruslah terwujud termasuk berpisah dengan istri.

"Ceritanya demikian. Suatu hari, mungkin karena rindu yang tak tertahankan istriku nekat menerobos istana untuk menemuiku. Tentu saja dia ditangkap sebelum anjing-anjing menghajarnya. Ada penjaga yang memberitahukan hal itu padaku. Katanya, waktu dihadapkan ke baginda, sang baginda tertarik dengan istriku karena kecantikannya. Istriku katanya mau dijadikan penari istana. Tentu saja aku patut curiga, baginda telah memperlakukan istriku sesuai hasrat dan nafsunya. Istriku tak berdaya. Aku juga tak pernah dipertemukan dengannya. Dan hingga kini dia tak pernah kembali.

Perihal penari istana memang sudah banyak yang mendengar. Orang-orang suruhan istana juga kelayapan mencari para perempuan cantik untuk dibawa ke istana dengan dalih mau dijadikan penari, khusus menghibur keluarga istana beserta tamu-tamu agungnya"

Wanita dan penguasa memang tidak terpisahkan. Apalagi mereka penguasa yang bisa melakukan apa saja. Mereka juga manusia biasa yang mempunyai nafsu. Apalagi mereka sebagai penguasa tentunya lebih mudah dalam menyalurkan hasrat nafsunya itu. Wanita siapa saja yang ia mau haruslah terpenuhi, apabila tidak mau pastinya akan dipaksa. Mereka tentu memiliki harta dan tahta, tidak heran lagi apabila seseorang yang memiliki harta dan tahta selalu berdekatan dengan dunia seperti itu. Bahkan sampai sekarang pun demikian. Para pejabat-pejabat dipemerintahan seringkali terdengar terlibat serong dengan wanita lain. Harta dan tahta ini memanglah akan menjadi duri permasalahan apabila tidak dimanfaatkan dengan baik. Akan menjadikan terjerumus dalam lembah hitam. Hal inilah yang membuat stigma negatif para wanita. Sehingga mereka dipandang rendah atau dengan kata lain murah dan bisa dibeli oleh kaum laki-laki. Padahal secara tidak disadari para kaum laki-lakilah tersangka utamanya ketika seorang wanita mendapat stigma negatif dimasyarakat. Para laki-laki dengan seenaknya sendiri memperlakukan wanita sedemikian rupa sehingga ia melanggar norma-norma sosial, hukum, budaya, serta agama. Namun selama ini yang mendapat stigma negatif adalah wanita, bukanlah pria.



Daftar pustaka

https://kbbi.web.id/stigma
https://klipingsastra.com/id/oleh/m-shoim-anwar

 

 

 

Komentar